Monday, May 14, 2012


SANG PEMULUNG BUDIMAN
 
Saat anda lewati TPS (Tempat Pembuangan Sampah), dengan pasti saya dapat menebak bahwa Anda akan menutup hidung rapat-rapat atau mungkin menahan nafas hingga kita jauh dari sumber baud dan penyakit itu (menurut kita). Tapi lain di mata bapak yang satu ini.
Sampah di matanya seperti berlian dan baunya seperti udara bersih yang kita hirup sehari-hari. “Wah, sudah biasa pak ustadz…. Udah jadi makanan sehari-hari,” jawabnya ketika beliau saya Tanya tentang kebiasaannya.
Saya heran, kagum dan merasa iri dengan beliau. Ketika Senin beliau berpuasa, ketika Kamis pun demikian.
Bahkan beliau pun sering berbuka di dekat TPS itu sembari menunggu buangan sampah warga yang lain.
 
Saya rasa, kita tak akan sanggup menelan makanan di samping sampah ataupun bau yang menyengat hidung. Sekali lagi saya kagum dengan beliau.
Saya selaku saksikan bapak ini membawa plastik putih di sepedanya. Dan tahukah Anda apakah isinya?
Jika Anda menebak itu berisi makanan maka Anda salah. Isinya tak lain adalah baju muslim, sarung, dan peci putih favoritnya.
 
Setiap adzan hamper berkumandang beliau pergi ke kamar mandi umum yang ada didekatnya. Ia mandi wudhu dan pergi dari masjidyang jaraknya 500 meter darinya.
Beliau datang paling awal di masjid. Seakan tak merelakan dirinya berdiri di shof yang kedua.
Setelah shalat ashar kala itu. Sempat saya tanyakan kepada beliau tentang keadaannya. Mengapa selalu saja ada dan dating paling awal ke masjid?
“Saya malu ustadz, kalo saya datang dan berdiri paling akhir dalam jamaah masjid. Saya malu sama Allah,” jawab beliau.
“Lho, kenapa malu pak?” saya kembali bertanya.
“Saya malu ustadz. Sebab saya sudah diberi nikmat nyawa dan nikmat rizki yang berlimpah.” Jawabnya.
Kemudian beliau lanjut berkata,”Bukankah setiap nyawa akan mati, dan bukankah setiap anak Adam pasti akan berdosa. Lalu mengapa kita masih berbangga diri, seakan kita tel;ah aman dari neraka dan selalu berbangga dengan amalan kita yang sedikit jumlahnya.”
Subhanallah.. Sungguh istimewanya bapak ini.
 Meski hanya mengais sampah. Ia katakana ini adalah rezeki yang lebih baginya. Meski susah dalam pandangan manusia, ia tetap istiqomah dijalan-Nya.
Coba kita dibandingkan dengan kita yang diberi nikmat pekerjaan yang mulia, bersih dan jauh dari kesan kumuh. Namun lebih senang berada di depan komputer dari pada melangkah ke masjid tuk shlat jamaah.
Dan kita yang makan di tempat yang lalat tak mungkin tuk mendekat, terkadang membaca Bismillah pun kita tak sempat.
Inilah pembelajaran.
Yang kita mengira tak ada manfaatnya ketika kita berkawan dengan orang seperti beliau. Jangan heran bila berlian kau temukan di Lumpur hitam kelam. Jangan pernah tidak bersyukur atas segala yang telah diberikan. Dan jangan berbangga dengan kebaikan yang kita lakukan sebab itu semua akan melenakan.
Semoga bisa diambil hikmah sebagai pengingat bahwa kita harus lebih baik dari sekarang dan selalu memikirkan kehidupan akherat.

No comments:

Post a Comment