Tuesday, May 15, 2012

Tangisan Positif





Pernahkah kita berfikir sejenak tentang apa sebenarnya tujuan sebuah kisah dikisahkan pada orang lain? Karena tanpa kita sadari, isi dari sebagian besar percakapan kita dengan orang lain adalah kisah. Kita berbincang dengan saudara-saudara sepupu ketika acara kumpul keluarga ketika lebaran tiba temanya tak jauh dari bercerita kisah. Demikian pula jika kita sedang rehat di sela aktifitas keseharian di kantin dengan teman sekantor, yang menjadi bahan pembicaraan pun tak jauh dari kisah-kisah.


Kisah itu sendiri amat banyak variannya. Kabar tentang keluarga kita bisa jadi kisah. Pengalaman pribadi kita juga kisah. Aneka anekdot juga bisa menjadi kisah. Pengalaman orang lain pun bisa menjadi kisah. Selama berbagai macam hal itu ditransfer dari satu orang ke orang lain, maka dia akan berubah wujud menjadi sebuah kisah. Sedangkan, kalau dibiarkan tersimpan dalam memori masing-masing maka dia bukanlah kisah.

Kembali kepada pertanyaan di atas, mengapa kita mengisahkan kisah-kisah itu dikisahkan? Singkat kata, karena kisah itu bermanfaat. Lalu, apa manfaatnya? Jawaban singkatnya bisa menjadi pengetahuan baru bagi pendengarnya.

Seperti yang dikatakan oleh seorang bijak. “Orang yang pandai adalah orang yang mau bercermin pada pengalaman orang lain. Sedang orang yang bodoh hanya bercermin pada dirinya sendiri.”


Dengan kata lain, orang yang bodoh adalah orang yang tidak mau mendengar kisah orang lain. Sedangkan orang yang pandai adalah orang yang mau mendengarkan kisah orang lain, menimbangnya, lalu mengambil pelajaran dari kisah tersebut.

Setelah dipikir-pikir, ternyata betul juga apa yang dikatakan oleh orang bijak itu. Bagaimana tidak? Si Bodoh, tidak mengambil pelajaran kecuali dari apa yang pernah dia alami. Sedangkan Si Pandai, dia tidak seperti itu. Mottonya, jika sudah pernah pernah ada orang yang jatuh dalam sebuah lubang, kita tidaklah perlu ikut jatuh pula. Cukup hal itu menjadi pelajaran berharga untuk tidak jatuh pada lubang yang sama” bukan?

Oleh karenanya, disini akan disajikan kisah-kisah kecil yang terkadan dianggap remeh, akan tetapi hakekatnya penuh dengan pelajaran berharga. Diambil dari buku Al-Bukhala’ karya Al-Jahizh yang amat terkenal. Semoga bermanfaat.

 

Tangisan Positif

Suatu ketika Al-Jahizh berjumpa dengan Fulan yang sedang memarahi kawannya yang mudah menangis mengucurkan air matanya ketika berdoa. Fulan berkata, ”Kebiasaanmu mirip dengan perempuan, cengeng, dan matamu bisa kehabisan air mata lalu buta.

Mendengarnya Al-Jahizh ganti memarahi Fulan, ”Sesungguhnya menangis itu sesuai dengan watak bawaan manusia. Dampaknya akan positif jika sesuai dengan situasi dan kondisi. Menangis menandakan hati lembut dan tidak keras. Menangis juga dianggap sebagai kesempurnaan dan kebahagiaan para wali Allah. Menangis termasuk hal penting bagi orang yang beribadah dan juga orang yang mendekatkan diri kepada Allah. Menangis juga bermanfaat bagi orang-orang yang takut. Tangisan digunakan sebagai alat untuk memperoleh belas kasihan.”


Al-Jahizh menambahkan lagi,”Ada seorang bijak yang menasehatkan kepada seorang laki-laki yang terlalu cemas melihat anak bayinya yang selalu menangis. Dia berkata,’Janganlah cemas, karena sesungguhnya menangis itu mempercepat pertumbuhan badannya sekaligus baik juga untuk penglihatannya.”

Si Fulan tadi hanya bisa melongo mendengarkan. Belum cukup dengan itu, Al-Jahizh menambahkan lagi,”Para salaf juga banyak menangis karena dosa-dosa dan Rasulullah SAW tidak pernah melarangnya.”

 

Dikisahkan juga oleh Al-Jahizh tentang seorang lelaki yang hidup pada masa Ustman bin Affan bernama Amir bin Abdi Qaiz kerap kali memukul-mukul matanya seraya berkata,”Mataku tidak bisa menangis, tiada berkedip, dan tiada pernah basah. ”Dia mengatakannya karena takut kalau-kalau hatinya sudah keras karena tiada pernah menangis.

Ternyata apa yang terjadi di masa Al-Jahizh meski bebeda tempat  dan masa tak jauh berbeda dengan apa yang kita alami di sini. Menangis bagi seorang laki-laki terkadang dianggap perbuatan yang memalukan. Bahkan, dibeberapa tempat seorang ayah akan sangat marah jika melihat anak laki-lakinya menangis. Sehingga muncullah sebuah anggapan di kehidupan masyarakat kita bahwa pantang bagi seorang laki-laki meneteskan air mata, meski pada keadaan amat menyedihkan sekali pun.


Disini Al-Jahizh memutarbalikkan presepsi itu, bahwa menangis bukanlah hal yang memalukan. Bahkan orang yang susah menangis (karena takut pada Allah) maka hatinya terancam mengeras. Menangis juga bisa menjadi wasilah penyelamat dari api neraka. Hal ini sesuai dengan hadits nabi yang potongannya berbunyi,”Dua mata yang selamat dari jilatan api neraka… mata yang basah karena beribadah kepada Allah.”

Oleh karena itu, marilah kita giatkan tangisan positif di antara kita. Agar hati tidak keras, diri pun selamat dari api Neraka.*(Aslm)

No comments:

Post a Comment