Wednesday, May 30, 2012

Tangan Allah


Tangan Allah
 
Pada pembahasan-pembahsasan kelompok jahmiyah telah mengingkari bahwa Allah dapat dilihat di surga. Dan penentangan mereka ini hanya berdasarkan dalil akal semata yang sangat lemah dan tidak bisa dijadikan sandaran dalam keyakinan seorang muslim. Yang paling selamat adalah sebagaimana perkataan Abdullah bin Abdi Daud, fa qul mitslama qod qola fii dzaka tanjahu (katakanlah seperti apa yang telah mereka katakan dalam perkara ini maka engkau selamat). Maksudnya adalah mengikuti para sahabat yang mengambil perkataannya dari Rasulullah SAW.

Mengapa mengikuti perkataan sahabat yang meriwayatkan dari Rasulullah merupakan jalan keselamatan, hal ini dikarenakan NAbi Muhammad SAW tidaklah berkata-kata melainkan setiap yang dilakukan merupakan wahyu dari Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT :
http://www.instructables.com/image/F9KY7QWFG2MJF77/Youll-need.jpg
“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm : 4)

Dengan ayat tersebut, maka perkataan Nabi Muhammad SAW adalah suatu kebenaran dan tidak ada keraguan keraguan sedikitpun atasnya. Namun perlu diperhatikan bagi setiap muslim untuk membersihkan diri dari hadits-hadits yang dha’if (lemah) lebih-lebih yang maudu’ (palsu). Dan dan yang kita terima dan kita jadikan sandaran adalah hadits yang maqbul (diterima) atau yang shahih dan hasan. Dan hadits tentang melihat Allah di akhirat merupakan hadits yang shahih bahkan mutawatir (banyak sekali yang meriwayatkan).

Sebagaimana kelompok sesat jahmiyah mengingkari melihat Allah di akhirat, mereka juga mengingkari sifat dzat Allah yang berupa tangan. Mereka ingin mensucikan Allah tapi dengan memalingkan maknanya, mereka berkata bahwa Allah punya tangan tapi maksud dan makna tangan ini tidaklah secara hakiki, maknanya adalah nikmat Allah, atau kehendak Allah. Jadi kesimpulannya mereka menafikan hakikat tangan Allah dan menetapkan makna yang tidak benar. Ada pun kebalikan dari kelompok ini adalah kelompok musyabihah, yaitu mereka menetapkan bahwa Allah memiliki tangan secara hakikat, namun mereka menyerupakan tangan Allah dengan tangan makhluk-Nya.
 

Kedua kelompok sesat di atas telah melakukan ilhad (penyimpangan) dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT, sebagaimana firman-Nya :
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang yulhiduna  /menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al A’rof: 108)

Maka Ahlus sunnah wal jama’ah dalam masalah ini adalah  tansih bila ta’thil. Maknanya, menetapkan sifat dzat Allah yang berupa tangan tanpa menyerupakan tangan Allah dengan tangan makhluk-Nya dan mensucikan Allah SWT dengan menetapkan tangan-Nya secara hakiki tanpa memalingkan dengan makna yang menyimpang.
Banyak sekali nash-nash dari kitabullah maupun sunnah rasulilah yang shahihah menetapkan sifat dzat Allah yang berupa tangan. Diantaranya; firman Allah SWT dalam surat Az Zumar ayat 67 :
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
Juga firman-Nya :
Allah berfirman : “Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS. Shad: 75)
Rasulullah SAW bersabda : “Tangan Allah selalu penuh, tidak kurang karena memberi nafkah, dan selalu dermawan baik siang maupun malam.” Beliau bersabda lagi: “Bukankah  kalian telah melihat apa yang dibelanjakan –Nya semenjak Dia menciptakan langit dan bumi, dan tidak berkurang sedikit pun apa yang di tangan-Nya?” Beliau bersabda lagi : “Arsy-Nya di atas air, dan tangan-Nya yang lain memegang timbangan, yang terkadang Ia rendahkan atau tinggikan.” (HR. Bukhari)

BBC One - Life, Creatures of the Deep
Menetapkan tangan Allah secara hakikat tidaklah melazimkan menyerupakan dengan tangan makhlukNya, sebagaimana penamaan yang sama di antara makhluk Allah tidak melazimkan kesamaan bentuk dan rupa. Ini makhluk dengan makhluk, lalu bagaimana antara makhluk dengan khalik. Kita menetapkan bahwa Allah memiliki tangan secara hakiki sesuai dengan sifat kesempurnaan dan ketinggian dzat-Nya dan kita tidak menyerupakakan Allah dengan makhluk-Nya serta tidak memalingkan yang sebenarnya.

No comments:

Post a Comment